Pages

Banner 468 x 60px

 
Showing posts with label KEORGANISASIAN. Show all posts
Showing posts with label KEORGANISASIAN. Show all posts

Saturday, 22 November 2014

Islam Dan Tantangan Modernitas

0 comments
Islam Dan Tantangan Modernitas


Secara teologis, Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat ilahiah (transenden). Pada posisi ini Islam adalah pandangan dunia (weltanschaung) yang memberikan kacamata pada manusia dalam memahami realitas.
Meski demikian, secara sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, realitas sosial kemanusiaan. Pada wilayah ini nilai-nilai Islam bertemu dan berdialog secara intens dengan kenyataan hidup duniawi yang selalu berubah dalam partikularitas konteksnya.
Dialog antara universalitas nilai dan partikularitas konteks menjadi penting dan harus selalu dilakukan agar misi Islam sebagai rahmat semesta alam dapat diwujudkan. Ketidakmampuan berdialog dapat menjebak agama pada posisi keusangan (kehilangan relevansi) atau pada posisi lain kehilangan otentitasnya sebagai pedoman hidup.
Zaman Modern 

Modern berarti baru, saat ini, up to date. Ini adalah makna obyektif modern. Secara subyektif makna modern terkait erat dengan konteks ruang waktu terjadinya proses modernisasi. Nurcholis Majid melihat zaman modern merupakan kelanjutan yang wajar pada sejarah manusia. Setelah melalui zaman pra-sejarah dan zaman agraria di Lembah Mesopotamia (bangsa Sumeria) sekitar 5000 tahun yang lalu, umat manusia memasuki tahapan zaman baru, zaman modern, yang dimulai oleh bangsa Eropa Barat laut sekitar dua abad yang lalu (Majid; 2000, 450).
Zaman baru ini, menurut Arnold Toynbee seperti yang dikutip oleh Majid, dimulai sejak menjelang akhir abad ke 15 M ketika orang Barat berterima kasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan.
Zaman modern merupakan hasil dari kemajuan yang dicapai masyarakat Eropa dalam sains dan teknologi. Pencapaian tersebut berimbas pada terbukanya selubung kesalahan dogma gereja setelah manusia berhasil mengenal hukum-hukum alam dan menguasainya. Pengetahuan tersebut menjadi kritik terhadap gereja dan berujung pada sikap anti gereja. Maka, di era ini, manusia menjadi penguasa atas diri dan hidupnya sendiri. Doktrin teosentris (kekuasaan Tuhan) yang dihegemonikan gereja selama abad pertengahan diganti dengan doktrin manusia sebagai pusat kehidupan (antroposentrisme).
Sebagai kritik atas masa lalu, zaman modern banyak memutus nilai-nilai dan jalan hidup tradisional dan digantikan dengan nilai-nilai baru berdasar sains yang dicapai manusia. Di era ini manusia mencipta pola hidup baru yang berbeda dengan era sebelumnya. Tentang hal ini David Kolb menyatakan “we are developing something new in history” (Kolb; 1986, 2). 
Kepercayaan diri manusia modern membuat banyak dari mereka yang mengasumsikan zaman modern sebagai puncak perkembangan sejarah kemanusiaan. August Comte, salah seorang ilmuan positivis, mengakui bahwa sejarah peradaban manusia mengalami tiga tahap perkembangan; 1) teologis, dimana manusia memahami alam sebagai hasil campur tangan Tuhan. Tahap ini terbagi dalam tiga sub: animisme, politeisme, dan monoteisme. 2) metafisika. Pada tahap ini peran Tuhan di alam digantikan oleh prinsip-prinsip metafisika, seperti kodrat. Dan tahap terakhir 3) adalah positif.
Tahap ini diwarnai oleh keyakinan yang cukup besar pada kemampuan sains dan
teknologi. Manusia tidak lagi mencari sebab absolut ilahiah dan berpaling pada pemahaman hukum-hukum yang menguasai alam.(Donny Gahral Adian; 2002,
65-66).
Penguasaan atas sains dan teknologi membawa bangsa-bangsa Eropa ke arah kemajuan luar biasa hingga mampu menandingi dan menguasai bangsa-bangsa Islam. Kolonialisasi menjadi pilihan yang diambil bangsa-bangsa penguasa baru tersebut.  Kolonialisme dilakukan bukan hanya dengan senjata mesin, tetapi juga tata nilai, ideologi dan kultur. Maka, terjadilah pergesekan antara nilai baru yang dibawa oleh bangsa kolonial dengan kultur asli bangsa muslim.
Tantangan Modernitas  
Pergulatan modernitas dan tradisi dalam dunia Islam melahirkan upaya-upaya pembaharuan terhadap tradisi yang ada. Harun Nasution menyebut upaya tersebut sebagai gerakan pembaruan Islam, bukan gerakan modernisme Islam. Menurutnya, modernisme memiliki konteksnya sebagai gerakan yang berawal dari dunia Barat bertujuan menggantikan ajaran agama Katolik dengan sains dan filsafat modern. Gerakan ini berpuncak pada proses sekularisasi dunia Barat (Nasution; 1975, 11).
Berbeda dengan Nasution, Azyumardi Azra lebih suka memakai istilah modern dari pada pembaruan. Azra beralasan penggunaan istilah pembaruan Islam tidak selalu sesuai dengan kenyataan sejarah. Pembaruan dalam dunia Islam modern tidak selalu mengarah pada reaffirmasi Islam dalam kehidupan muslim. Sebaliknya, yang sering terjadi adalah westernisasi dan sekularisasi seperti pada kasus Turki (Azra; 1996, xi)
Apa yang disampaikan Azra adalah kenyataan modernisme dalam makna subyektifnya, sedangkan Nasution mencoba melihat modern dengan makna obyektif. Memang harus diakui, ekspansi gagasan modern oleh bangsa Barat tidak hanya membawa sains dan teknologi, tetapi juga tata nilai dan pola hidup mereka yang sering kali berbeda dengan tradisi yang dianut masyarakat obyek ekspansi. 
Baik dalam makna obyektif atau subyektifnya, modernitas yang diimpor dari bangsa Barat membuat perubahan dalam masyarakat muslim, di segala bidang. Pada titik ini umat Islam dipaksa memikirkan kembali tradisi yang pegangnya berkaitan dengan perubahan yang sedang terjadi. Respons ini kemudian melahirkan gerakan-gerakan pembaruan.
Tetapi, pembaruan Islam bukan sekedar reaksi muslim atas perubahan tersebut. Degradasi kehidupan keagamaan masyarakat muslim juga menjadi faktor penting terjadinya gerakan pembaruan. Banyak tokoh-tokoh umat yang menyerukan revitalisasi kehidupan keagamaan dan membersihkan praktek-praktek keagamaan dari tradisi-tradisi yang dianggap tidak islami.

Islam Dan Perubahan
Muara yang diharapkan dari proses dialektika nilai-nilai Islam dengan modernitas adalah keberlakuan Islam di era modern. Ini terjadi jika upaya tersebut berhsil dengan baik. Sebaliknya, ketidakberhasilan proses tersebut dapat membuat agama kehilangan relevansinya di zaman modern. Peristiwa penolakan terhadap geraja di awal zaman modern di Eropa dapat terulang kembali dalam konteks yang berbeda, dunia Islam.
Islam memiliki potensi kuat untuk menjawab tantangan tersebut.
Ernest Gellner, seperti yang dikutip Majid, menyatakan bahwa di antara tiga agama monoteis; Yahudi, Kristen dan Islam, hanya Islamlah yang paling dekat dengan modernitas. Ini karena ajaran Islam tentang universalisme, skripturalisme (ajaran bahwa kitab suci dapat dibaca dan dipahami oleh siapa saja, tidak ada kelas tertentu yang memonopoli pemahaman kitab suci dalam hierarki keagamaan), ajaran tentang partisipasi masyarakat secara luas (Islam mendukung participatory democracy), egalitarianisme spiritual (tidak ada sistem kerahiban-kependetaan), dan mengajarkan sistematisasi rasional kehidupan sosial (Majid, 467).
Yusuf Qardhawi menilai kemampuan Islam berdialog secara harmoni dengan perubahan terdapat dalam jati diri Islam itu sendiri. Potensi tersebut terlihat dari karakteristik Islam sebagai agama rabbaniyah (bersumber dari Tuhan dan terjaga otentitasnya), insaniyah (sesuai dengan fitrah dan demi kepentingan manusia), wasthiyyah (moderat-mengambil jalan tengah), waqiiyah (kontekstual), jelas dan harmoni antara perubahan dan ketetapan (Qardhawi; 1995).

Pembaruan Islam
Meski Islam potensial menghadapi perubahan, tetapi aktualitas potensi tersebut membutuhkan peran pemeluknya. Ketidakmampuan pemeluk Islam dapat berimbas pada tidak berkembangnya potensi yang ada. Ungkapan yang sering dipakai para pembaru Islam untuk menggambarkan hal ini adalah “al-Islam mahjub bi al-muslimin).
Dalam mengaktualisasikan potensi tersebut, pemeluk Islam difasilitasi dengan intitusi tajdid (pembaruan, modernisasi). Ada dua model tajdid yang dilakukan kaum muslim: seruan kembali kepada fundamen agama (al-Qur’an dan hadith), dan menggalakkan aktivitas ijtihad. Dua model ini merupakan respons terhadap kondisi internal umat Islam dan tantangan perubahan zaman akibat modernitas. Model pertama disebut purifikasi, upaya pemurnian akidah dan ajaran Islam dari percampuran tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam. Sedang model kedua disebut dengan pembaruan Islam atau modernisme Islam (Achmad Jainuri; 1995, 38).
Di sini, Tajdid memiliki peranan yang signifikan. Ketiadaan rasul pasca Muhammad SAW. bukan berarti tiadanya pihak-pihak yang akan menjaga otentitas dan melestarikan risalah Islam. Jika sebelum Muhammad SAW. peranan menjaga dan melestarikan risalah kerasulan selalu dilaksanakan oleh nabi atau rasul baru, pasca Muhammad SAW. peran tersebut diambil alih oleh umat Islam sendiri. Rasul Muhammad SAW. pernah menyatakan bahwa ulama` merupakan pewarisnya, dan di lain kesempatan ia menyatakan akan hadirnya mujaddid di setiap seratus tahun.
Dalam proses tersebut, setiap ajaran Islam mengalami pembaruan yang berbeda-beda, bahkan ada yang tidak boleh disentuh sama sekali. Aqidah dan ibadah merupakan domain yang sangat tabu tersentuh proses perubahan. Yang bisa dilakukan dalam kedua wilayah tersebut adalah pembersihan dari aspek-aspek luar yang tidak berasal dari doktrin Islam. Di sini berlaku kaidah “semua dilarang kecuali yang diperintah”.
Berbeda dengan itu, aspek muamalah (interaksi sosial) merupakan wilayah gerak tajdid dengan sedikit tabu di dalamnya. Pada aspek ini nilai-nilai Islam mewujudkan dirinya berupa paradigma (cara pandang) kehidupan.
Ajaran Islam menyediakan pedoman-pedoman dasar yang harus diterjemahkan
pemeluknya sesuai dengan konteks ruang waktu yang melingkupinya. Pada wilayah ini yang berlaku adalah kaidah “semua dibolehkan kecuali yang dilarang”.
Menurut Kuntowijoyo (Kuntowijoyo; 1997, 170) penerjemahan nilai-nilai tersebut bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Yang pertama berangkat dari nilai ajaran langsung ke wilayah praktis. Ilmu fiqh merupakan salah satu perwujudan yang pertama ini. Sementara yang kedua berangkat dari nilai ke wilayah praktis dengan melalui proses filsafat sosial dan teori sosial terlebih dahulu (nilai-filsafat sosial-teori sosial). Sebagai contoh adalah ayat yang menjelaskan Allah tidak akan
merubah suatu kaum jika mereka tidak merubah dirinya sendiri. Nilai perubahan ini harus diterjemahkan menjadi filsafat perubahan sosial, kemudian menjadi teori perubahan dan baru melangkah di wilayah perubahan sosial.
Keberadaan tajdid menjadi bukti penting penghargaan Islam terhadap kemampuan manusia. Batas-batas yang ada dalam proses tajdid bukan merupakan pengekangan terhadap kemampuan manusia, tetapi sebagai media mempertahankan otentisitas risalah kenabian. Ketika agama hanya menghadirkan aspek-aspek yang tetap, abadi, tidak bisa berubah maka yang terjadi adalah ketidakmampuan agama mempertahankan diri menghadapi zaman. Akibatnya, agama akan kehilangan relevansinya. Ini seperti yang terjadi pada gereja di abad pertengahan.
Sebaliknya, jika aspek-aspek yang tetap, abadi dan tidak berubah tersebut tidak ada dalam agama, maka agama akan kehilangan otentitasnya sebagai pedoman hidup manusia. Di sinilah, kekhasan Islam seperti yang disebut Qardhawi di atas berperan. Islam berdiri di tengah-tengah. Islam mengandungi ketetapan-ketetapan di satu sisi, dan keluwesan-keluwesan di sisi lainnya. Dengan sikap terebut Islam bisa tetap eksis di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan otentitasnya sebagai agama ilahiah.
Gagasan pembaharuan Islam dapat dilacak di era pra-modern pada pemikiran Ibn Taymiyah (abad 7-8 H/13-14 M). Taymiyah banyak mengkritik praktek-praktek islam populer yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan menyerukan kembali kepada syariat. Gerakan lain dilakukan oleh Muhammad Abdul Wahab di Arabia pada abad ke 18 M yang menolak dengan keras tradisi yang tidak Islami (Jainuri; 2002, 15-17).
Jika pembaharuan pra-modern dilakukan sebagai otokritik praktek keagamaan populer masyarakat muslim, pembaruan era modern merupakan respons umat Islam terhadap tantangan yang ditawarkan oleh modernitas Barat. Di era ini tercatat beberapa tokoh yang cukup populer seperti al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, Sayyid Sabiq, Muhammad Iqbal, dll.
Proses pembaharuan era modern mengalami dinamikaa yang cukup kompleks. Keinginan harmonisasi Islam dengan modernitas melahirkan banyak pemikir dengan karakteristik yang berbedaa-beda. Sebagian pemikir tampak wajah puritanismenya, dan sebagian yang lain condong pada modernitas, bahkan, terjebak pada pengagungan nilai-nilai modern (seperti sekularisme).

Penutup
Modernitas yang melanda dunia Islam, dengan segala efek positif-negatifnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi umat Islam di tengah kondisi keterpurukannya. Umat Islam dituntut bekerja ekstra keras mengembangkan seagala potensinya untuk menyelesaikan permasalahannya. Tajdid sebagai upaya menjaga dan melsetarikan ajaran Islam menjadi pilihan yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh umat Islam. Upaya tajdid harus terus dilakukan, tidak boleh berhenti meski memerlukan cost yang besar. Wallahu a`lam 


Read more...

Implikasi Ilmu Pengetahuan Dalam Proses Pendidikan Islam

0 comments
IMPLIKASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PROSES PENDIDIKAN ISLAM


BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 
Fenomena perkembangan ilmu pendidikan diberbagai bidang khususnya dibidang ilmu pengetahuan semakin pesatnya, dengan bukti-bukti telah diketemukannya/diciptakannya teknologi-teknologi mutakhir, sangat cepat mempengaruhi terhadap intelektual manusia sekiranya, kemampuan manusia dalam keterampilan, komunikasi, elektronik, kemampuan mengidentifikasi benda-benda langit, atau planet luar angkasa, itu semua berkat semakin majunya ilmu pengetahuan. 
Dengan tujuan pendidikan islam, untuk mewujudkan dunia pendidikan terhadap insan-insan, kreatif, yang memiliki kemampuan tidak lepas dari kendali IPTEK yang disertai IMTAQ, dengan demikian selain membentuk manusia yang cerdasnya juga memiliki keyakinan yang istiqomah juga moral yang bermanfaat. 
Maka pemakalah akan memaparkan bagaimana tujuan pendidikan islam dan implikasinya ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan isalam. 
   
B. Rumusan Masalah 
Dari uraian diatas penulis mempunyai rumusan masalah yaitu: 
1. Bagaimana tujuan pendidikan islam 
2. Bagaimana implikasi ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan islam  

C. Tujuan 
1. Tujuan umum: 
Untuk lebih mengetahui sejauh mana merupakan ilmu pengetahuan dalam pendidikan islam dan dampaknya terhadap watak dan perilaku manusia. 

2. Tujuan khusus: 
a. Untuk mengetahui bagaimana tujuan pendidikan Islam 
b. Untuk mengetahui implikasi ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan Islam 
c. Memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
 BAB II
PEMBAHASAN 

A. Tujuan Pendidikan Menurut Islam 
Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena ini tujuan pendidikan islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan islam. 
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, fungsi tujuan itu ada empat macam, yaitu: 
1. Mengakhiri usaha 
2. Mengarahkan usaha 
3. Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama. 
4. Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu. 
Sehubungan dengan itu maka tujuan mempunyai arti yang sangat penting bagi keberhasilan sasaran yang diinginkan, arah atau pedoman yang harus ditempuh, tahapan sasaran serta sifat dan mutu kegiatan yang dilakukan. Karena itu kegiatan yang tanpa disertai tujuan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan keinginannya sendiri akan menjadi acak-acakan. 
Drs. Ahmad D.Marimba mengemukakan dua macam tujuan yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir. 
a. Tujuan sementara 
Yaitu sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat islam yang melaksanakan pendidikan islam. Tujuan sementara disini yaitu, tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani-rohani dan sebagainya. 
Sedangkan kedewasaa rohaniah, bukanlah merupakan sesuatu yang statis, melainkan merupakan sesuatu proses. Oleh karena itu sangat sukarlah ditentukan kapan seseorang yang telah mencapai dewasa rohaniah dalam arti kata yang sesungguh-sungguhnya. Ukuran-ukuran mengenai hal inipun bersifat teoritis dan juga merupakan ukuran gradual saja (lebih atau kurang). Seseorang dinyatakan telah mencapai dewasa rohaniah apabila ia telah dapat memilih sendiri, memutuskan sendiri dan bertanggung jawab sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Dengan demikian maka mencapai kedewasaan ini hanya merupakan tujuan sementara untuk menuju kepada tujuan akhir.  
b. Tujuan akhir 
Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim. Sedangkan kepribadian muslim disini adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran islam. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba aspek-aspek keprobadian itu dapat digolongkan kepada 3 hal, yaitu:
a. Aspek –aspek kejasmaniahan; meliputi tingkah laku luar yang lebih nampak dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-cara berbuat, cara-cara berbicara dan sebagainya.2
b. Aspek-aspek kejiwaan, meliputu aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-cara berpikir, sikap (berupa pendirian atau pandangan seseorang dalam menghadapi seseorang atau sesuatu hal) dan minat.
c. Aspek-aspek kerohanian yang luhur; meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup da kepercayaan. Ini meliputi sistem ilai-nilai yang telah meresap didalam kepribadian itu, yang telah menjadi bagian dan mendarah daging dala kepribadian itu yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kepribadian individu itu. Bagi orang yang beragama, aspek-aspek inilah yang menuntunnya kedalam kebahagian, bukan saja didunia tetapi juga diakhirat. Aspek-aspek inilah memberi kualitet kepribadian keseluruhannya. 


Ringkasan yang dimaksud dengan kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukan poengabdian kepada tuhan dan, penyerahan diri kepada-Nya.
Drs. Muhammad Zen mengatakan didalam bukunya Materi Filsafat Pendidikan Islam: kepribadian muslim ini akhirnya tidak akan terlepas dari berpilih tiga yaitu: Iman. Islam, dan Ihsan, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadis yang cukup panjang yaitu ketika Nabi Muhammad SAW kedatangan seorang yang tidak dikenal yang kemudian tidak lain adalah Malaikat Zibril sendiri yang mengadakan test mengenai yang dimaksud tiga pokok diatas, dan ternyata Nabi dapat menjawab dengan benar. Mengenai Ikhsan diterangkan dalam hadis:

Artinya:
“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka ia melihatmu”
(HR.Muslim)
Kadang-kadang kepribadian muslim itu juga disebut dengan istilah takwa yang artinya dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kalau diartikan demikian memang dalam menjalankan segala suruhan itu akan banyak sekali hal-hal yang termasuk di dalamnya apalagi sekaligus dikaitkan dengan menjauhi larangannya. Sedangkan kedudukan keduanya telah diterangkan pula di depan sebagai pegangan yang kuat dan tidak akan tersesat apabila berpegangan kepada keduanya. 

Rasulullah pernah bersabda:

Artinya:
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat sesudahku, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya” 

Artinya:
“Bahwa engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Hari Akhir, dan engkau percaya kepada Qadar yang baik dan buruk.” 
(HR.Muslim)

Salah satu ayat mengenai takwa dan hubungan nya dengan pribadi muslim juga disebut dalam surat Al-Imran ayat: 102, yaitu supaya bertakwa kepada Allah, hidup selamanya dan mati jugadalam keadaan berpribadi muslim.
Artinya:
“Bertakwalah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh takwa, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam ( muslim)”
Menurut Imam Ghazali tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan baik didunia maupun di akhirat. Menurut Imam Ghazali manusia dapat mencapai kesempurnaanapabila mau berusaha mencari ilmudan selanjutnya mengamalkan atau Fadilah mengenai ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadilah ini selanjutnya dapat membawanya untuk dekat kepada Allah dan akhirnya membahagiakannyahidup didunia dan akhirat. Dalam halini beliau berkata:
Apabila saudara memperhatikan ilmu pengetahuan, niscaya saudara akan melihatnya suatu kelejatan padanya, sehingga merasa perlu mempelajarinya dan  niscaya saudara bakal mendapatkan ilmu itu sebagai sarana menuju ke kampung akhirat beserta kebahagiannya dan sebagai media untuk bertaqarrub kepada Allah SWT, yang mana taqarrub itu tidak dapat diraihnya jika tidak dengan ilmu tersebut. Martabat yang paling tinggi yang menjadi hak bagi manusia adalah kebahagiaan yang abadi. Dan sesuatu yang paling utama ialah sesuatu yang mengantarkan  kepada kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak dapat dicapai kalu tidak melalui ilmu dan amal, dan amal itu tidak dapay diraih sekiranya tidak melalui ilmu dan cara pelaksanaan mengamalkannya. Pangkal kebahagaiaan didunia dan akhirat adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena mencari ilmu itu sendiri termasuk amal utama.
Ringkasnnya bahwa tujuan pendidikan ini adalah membina insan paripuna yang taqarrub kepada Allah, bahagia didunia dan akhirat. Tidak dapat dilupakan pula orang yang rajin mengikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan ilmu yang dipelajarinya dan kelezatan ini pula dapat mengantarkan kepada pembentukan insan faripurna sebagai mana penjelasan di atas.
Prof. Dr. M.Athiyah Al Abrasy mengemukakan tentang tujuan pendidikan dalm satu kata yaitu fadilah/keutamaan. Kemuadian  dalam uraiannya yang dimaksud ialah:
”Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlak dan jiwa mereka, mennanamkan rasa fadilah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Dan beliau juga mengutip pendapat pada Al Ghazali: tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megahan dan janganlah hendak seorang pelajar itu belajar untuk mencari pangkat,. Harta, menipu orang bodoh atau bermegah-megah dengan kawan.”
Searah dengan tersebut diatas ialah pendapat yang dikemukakan oleh Dr. Omar Al Taumy yang menyatakan sebagai berikut.
Tentang tujuan-tujuan individual yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, maka pada keseluruhannya berkisar pada pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial. Atau dengan lebih jelas lagi, ia berkisar pada keseluruhannya pada pembinaan warga negara muslim yang baik, yang percaya kepada tuhan dan agamanya, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agamanya, berakhlak mulia yang timbul dari agamanya, sehat jasmani, berimbang dalm motivasi-motivasi, emosi, dan keinginan-keinginannya, sesuai dengan dirinya dan orang lain, bersenjatakan ilmu dan pengetahuan, dan sadar akan masalah-masalah masyrakat bangsa dan zamannya, halus perasaan seninya dan sanggup merasakan keindahan dalam segala bentuk dan coraknya, sanggup menggunakan masa luangnya dengan bijaksana dan berfaedah, mengetahui hak dan kewajiban-kewajibannya, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan seluruhnya dengan kesadaran, dengan keikhlasan dan kebolehan, menghargai kepentingan kehidupan keluarga secara khas dan besedia memikul tanggung jawab yang berkorban yntuk meneguhkan dan memperkuatnya”.
Abdul Fathah Jalal dalam bukunya yang berjudul Min UsulitTerbiyatil Fiil Islam yang dialihkan bahasakan Drs. Herry Noer Ali mengelompokan tujuan pendidikan  Islam kedalam tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu menjadiakn manusia sebagai abdi atau hamba Allah SWT yang senantiasa mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT dengan meneladani Rasulullah saw, menjujung tinggi ilmu pengetahuan, suka mempelajari segala yang  bermanfaat baginya dalam merealisasikan tujuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. (Q.S. Surat Al-Alaq, ayat 1-5).

B. Implikasi Ilmu Pengetahuan dalam Proses Pendidikan Islam
Sejak awal kelahirannya Islam baik secara normatip filosopis maupun aplikatif telah memberikan perhatian yang besar terhadap pentingnya sains dan teknologi. Ayat yang pertama kali turun yaitu ayat 1-5 surat Al-alaq (96) antara lain perintah membaca dan menulis dalam arti yang seluas-luasnya. Kata “membaca” yang diulang sebanyak dua kali (ayat 1-3) sebagaimana dikemukakan A. Baiquni, bukan hanya berarti membaca rangkaian huruf menjadi kata-kata, atau rangkaian kata-kata menjadi kalimat sebagaimana yang umumnya dipahami orang kebanyakan, melainkan juga berarti meneliti, mengobservasi, menelaah, mengklasifikasi, membandingkan, menyimpilkan dan mengverifikasi. Semua kegiatan yang terdapat dalam arti membaca ini merupakan kegiatan dalam rangka menghasilkan sain dan teknologi. Selain itu, kata kerja perintah (bacalah), sebagaimana terdapat dalam surat Al-alaq tersebut tidak memiliki maf’ul (objek). Menurut para mufasir, kata kerja perintah (fi’il Amar) yang tidak memiliki maf’ul (objek) tersebut menunjukan bahwa yang dibaca itu amat luas, yakni selain Al-Qur’an, juga fenomena atau ayat-ayat tuhan yang terdapat dalam jagat raya (sunattullah) ayat-ayat Tauhan yang terdapat pada masyarakat (ayat insaniyah), tanda-tanda zaman, dan lain sebagainya.
Demikian pila kata menulis (al-qalam) sebagaimana yang tedapat pada ayat 4 surat al-alaq tersebut, tidak hanya berarti menulis, sebagaimana yang umumnya dipahami, yakni menulis huruf-huruf, kata-kata atau kalimat, melainkan juga membuat rekaman, foto, gambar, menggambar, menyimpannya dalam disket, VCD, dan lain sebagainya.semua kegiatan ini amat erat kaitannya dengan kerja sais dan teknologi.
Selanjutnya islam juga mengajarkan bahwa dengan bantuan sain dan teknologi seseorang akan dapat menyelsaikan dan memecahkan masalah keduiaan dan akhirat. Karenanya setiap pekerjaan dalam Islam harus berbasis sains dan teknologi. Pekerjaan dalam Islam harus memanfaatkan dan motivasi yang tulus karena panggilan tuhan. Namun dalam dalam mengerjakan pekerjaan tersebut harus memanfaatkan sains dan teknologi. Pekerjaan, bahkan ibadah dalam Islam tidak akan diterima Tuhan jika tidak disertai ilmu pengetahuan. Pekerjaan yang didasarkan pada iman dan ilmu  pengetahuan itu lah yang memiliki nilai disisi tuhan.
Selanjutnya, H.M. Quraish Shihab, pakar Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, dalam hasil penelitiannya menyatakan, Al-Qur’an mengunakan kata ilmu dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali, dengan arti antara lain sebagai “Proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan (QS Al-baqarah [2]: 31-32). Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu disamping klasifikasi dan ragam disiplinnya.
Namun demikian, H.M. Quraish Shihab menggingatkan bahwa membahas antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya adakah teori relativitas atau komsep tentang angkasa luar; atau adakah ilmu komputer tercantum dalam Al-Qur’an; tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan penemuan ilmiah yang telah mapan? Dengan kata lain, meletakannya pada sisi “social psycology” (psikologi sosial) bukan pada sisi “history of scientific progress” (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan). Anggaplah bahawa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Qur’an(menurut perhitungan ulama kufah) mengandung suatu teori ilmiah , kemudian apa hasilnya? Apakah keuntungan dengan mengetahuai teori-teori tersebut bila masyarakat tidak diberi “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapat counter (penolakan) dari suatu lembaga ilmiah . tetapi masyarakat tempat ia hidup malah memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma, sehingga akhirnya menjadi korban tantangan tesebut atau korban penemuannya sendiri. Hal ini adalah akibat dari belum terwujudnya syarat-syarat sosial dan psikologis yang diebutkan diatas. Dari segi inilah kita dapat menilai hubugan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.
Salah satu faktor terpenting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri. Para psikolog menerangkan bahwa tahap-tahap perkembangan kejiwaan dan alam fikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase. Fase pertama, menilai baik buruknya suatu ide dengan ukuran yang mempunyai hubungan dengan alam kebendaan (materi) atau berdasarkan pada pancaindera yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan primer. Fase kedua, menilai idfe tersebut dari penjelmaan diri pribadi seseorang. Ia menjadi baik, bila tokoh A yang melakukan atau menyatakannya baik, dan menjadi buruk bila dinyatakannya buruk. Fase ketiga, (fase kedewasaan) adalah suatu penilaian tentang ide yang didasarkan atas nilai-nilai yang terdapat pada unsur-unsur itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal yang menguatkan atau melemahkannya (materi dan pribadi).
Hal ini sejalan dengan pernyataan Rasulullah SAW. Lihatlah apa yang dikatakan , dan jangan lihat orang yang mengatakannya. (HR Abu Hurairah). Dengan demikian, secara normatif, (berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah) , bahwa ajaran Islam memiliki tingkat berfikir yang sangat dewasa yang selanjutnua menjadi salah satu syarat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, secara historis umat Islam selain sangat berjasa dalam menyelamatkan ilmu pengetahuan dari kepunahan sebagai akibat dari pertentangan politik dan ideologis, juga telah memberikan sumbangan yang besar, baru, dan orisinal dalam bidang ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa pengetahuan pernah berkembang di Yunani, Romawi, Cina, India dan Persia. Namun, ilmu pengetahuan tersebut, pada saat Islam datang, sedang berada diambang kehancuran. Umat Islam lah yang menyelamatkan warisan ilmu pengetahuan tersebut, dengan cara menumbuhkan kembali semangat dan jiwa meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan, serta memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi bagi orang yang melakukannya. Apresiasi yang diberikan Islam ini merata diseluruh wilayah kekuasaan Islam pada masa itu, seperti di Baghdad (Irak), Cardova (Spanyol), Mesir, Persia (Iran sekarang) dan sebagainya. Beberapa khalifah berusaha memberikan dukungan dan fasilitas yang cukup besar bagi kegiatan tersebut. Berbagai warisan ilmu pengetahuan tersebut telah diolah, disegarkan, didialektikan, dan diberikan spirit dan jiwa sesuai dengan karakter ajaran Islam yang memadukan antara iman, ilmu dan amal, material dan spiritual; transedenental dan profan; kebutuhan individu dan masyarakat, keterbukaan, objektivitas, berbasis riset dan penalaran, dan seterusnya. Melalui proses ini umat Islam berhasil memelihara, menumbuhkan dan mengembangkan, menciptakan dan menemukan temuan-temuan yang baru yang bukan hanya dalam bidang ilmu agama Islam seperti tafsir, hadis, fikih, kalam, filsafat dan tasawuf, melainkan juga dalam bidang matematika, fisika, kimia, biologi, pertanian, astronomi, kedokteran, dan sebagainya. Berbagai hasil usaha dan nkerja keras umat Islam masa lalu hingga saat ini masih dapat dijumpai dengan mudah diberbagai belahan dunia, yaitu pada berbagai perpustakaan Universitas, pusat-pusat riset, kajian dan sebagainya.
Dengan mengemukakan informasi normatif dan historis tersebut diatas, kiranya dapat dikatakan, bahwa umat Islam bukanlah pengham,bat perkembangan ilmu pengetahuan, malah justru sebaliknya sebagai penggagas, pelopor, pioner, pengembang, penemu, dan sekaigus pengguna ilmu pengetahuan. Melalui proses ini umat Islam tampil sebagai pengawal jalan sejarah dan peradaban umat manusia selama kurun waktu lebih dari tujuh abad (mulai dari abad ke 7 s.d 13 masehi).
Spanyol (Andalus) pada masa itu tak ubahnya seperti America Serikat pada zaman sekarang. Demikian pula Baghdad pada masa itu tak ubahnya seperti Jerman dan Itali; dan Mesir pada masa itu tak ubahnya seperti Jepang dimasa sekarang.
Mulai abad ke 14, ilmu pengetahuan tersebut terlepas dari gemgaman umat Islamdengan segala akibatnya berupa keterbelakangan dalam bidang politik, ekonomi, kebudayaan, sosial, dan lain sebagainya.dan mulai abad ke- 20 timbul kembali kesadaran dari sebagian kecil umat Islam untuk merebut kembali kejayaaan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dengan jalan selain mengambil alih ilmu pengetahuan Islam yang telah diambil oleh Erofa dan barat dengan cara terlebih dahulu di Islam-kan, juga dengan cara menumbuhkan kreativitas dan pradigma baru dalam ilmu pengetahuan sesuai dengan ajaran Islam. Berbagai studi dan kajian tentang sebab-sebab kemerosotan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan masih terus dikaji hingga sekarang. Hasilnya antara lain, karena umat islam lebih berorientasi pada akhirat, agama, moral, akhlak, tasawuf, dan hati nurani tanpa mengimbanginya dengan orientasi keduniaan, ilmu pengetahuan, keberanian berijtihad, dan menggunakan akal fikiran. Sebab lainnya, karena sikap aprirori dan buruk sangka terhadap segala sesuatu yang berasal dari asing (khususnya dari Erofa dan Barat) , karena Erofa dan Barat pe4rnah menjajah umat Islam. Sebab lainnya, adalah mereka tidak mau peduli terhadap berbagai problema yang dihadapi masyarakat.
Uraian tersebut selain menunjukan bahwa Islam sangat mendorong pengembangan ilmu pengetahuanjuga menggunakannya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.         

BAB III
PENUTUP  

A. Kesimpulan 
Dapat disimpulkan tujuan pendidikan Islam pembentukan ihsan baik didunia dan di akhirat. Imam Al-Ghojali mengungkapkan manusia dapat mencapai kesempurnaan dengan cara berusaha mencari ilmu pengetahuan kemudian mengamalkan niscaya akan memperoleh fadilah. 
H.M Quraish Shihab mengingatkan bahwa perubahan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dengan malaikat teori relativitas saja melainkan yang lebih utama adalah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan dalam pengetahuan atau sebaliknya. 
Dengan kata lain dengan ilmu implikasi pengetahuan dalam proses pendidikan Islam hanya untuk lebih mendekatkan diri pada pencipta ilmu pengetahuan Allah Rubul Izati.  

DAFTAR PUSTAKA

1. Drs. Ahmad D. Marimba, Pengamat Fislafat Pendidikan Islam.
2. Drs. Muhammad Zein, Materi Filsafat Pendidikan Islam. 
3. Drs. H. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam. 
4. Prof. Dr. H. Abudinnasa, MA., Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multi disiplin. 







Read more...

Thursday, 20 November 2014

Poto BKC CBI TSM - Demontrasi Organisasi

0 comments
Assalamualaikum, Wr Wb
mudah mudahan ada dalam lindungan alah SWT.




sedikit share
saat OSPEK 2014, Mengenai Demontrasi BKC ( Bandung Karate Clube )



Pelaksanaan Demontrasi


 Ini ane  : Aceng Taofik Hidayat


Mirnawari - Kiki Milayanti - Aceng Taofik Hidayat - Ervin - Asih dan Cecep

Read more...

Monday, 18 February 2013

Poto Kegiatan Pelantiakan Gudep Pramuka

0 comments








Read more...

Saturday, 29 December 2012

Inspirasi Mahasiswa

0 comments
Kata-kata Motivasi buat “MAHASISWA” hari ini


“Bila anda gagal hari ini, jangan pernah menyerah. Ulangi terus kegagalan anda sampai atasan/komandan anda menyerah.”
(Mario Tegar)


“Hentikanlah kebiasaanmu membandingkan kekuranganmu dengan kelebihan orang lain.”
(Mario Teguh)

“Jangan pernah menyerah… Benturkanlah kepala anda ditembok atau batu, maka akan keluar darah/minimal benjol.”
(Mario Bross)

“Jika modal usaha Anda habis untuk aktivitas usaha Anda, setor terus modal Anda sekalipun tidak mendatangkan hasil bila kurang gadaikan saja apa yg bisa jd uang.”
(Mario Tekor)

“Tak ada pekerjaan yg berat. Pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan apabila tidak dikerjakan”
(Mario Ngeluh)

“Jika anda merasa lelah dengan pekerjaan anda, maka tidurlah, maka 1 masalah sudah terselesaikan.”
(Mario Tepar)


“Jangan pernah mikir kerjaan terus, enjoy ur life, forget about everything that’s bothering u… let’s get this party started!”
(Mari yo Dugem Mareee)

“Mulai dari yang mudah dan ringan, yang rumit dan berat nanti juga ada orang lain yang ngerjain…”
(Mario Tega)

“Mulailah dari yang kecil… karena semua yang besar dulunya juga kecil.”
(Mario Erot)

Kesuksesan bisa diraih karena usaha
Usaha ada karena kemauan
Kemauan tercipta karena ada cita-cita
Cita-cita berasal dari mimpi
Mimpi ada karena tidur…
So… Jika ingin sukses marilah kita TIDUR
(Mario Tengil)

“Tak ada pekerjaan yg berat. Jika merasa berat posisikan diri anda jangan di bawah, cobalah di atas. Jika masih terasa berat gantilah pasangan anda.”
(Mario Ozawa)

Read more...

Sebuah Insirasi Hati

0 comments
STATUS MAHASISWA

 
ingin tahu betapa berharganya waktu satu semester,
tanyakanlah kepada mahasiswa yang ‘memperdalam’ mata kuliah di semester berikutnya.

Kalau ingin tahu betapa berharganya waktu seminggu,
tanyakanlah kepada mahasiswa rantau di minggu akhir perkuliahan. Enaknya sih pulang kampung.

Kalau ingin tahu betapa berharganya waktu sehari,
tanyakanlah kepada mahasiswa yang titip absen waktu kuis mendadak diadakan hari itu.

kalau ingin tahu betapa berharganya waktu semalam,
tanyakanlah kepada mahasiswa yang semalaman belajar keras, besoknya UAS tetep aja ngga bisa ngerjain.

Kalau ingin tahu betapa berharganya waktu satu jam,
tanyakanlah kepada mereka yang kuliah siang, yang harusnya bisa dipake buat istirahat tidur siang.

Kalau ingin tahu betapa berharganya waktu satu menit,
tanyakanlah kepada mereka yang dapet dosen killer, telat satu menit aja ngga boleh masuk kelas.

Kalau ingin tahu betapa berharganya waktu satu detik, tanyakanlah kepada mahasiswa yang paling ahli nyontek, dimana satu detik kelengahan pengawas harusnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.

Read more...